|
Sejarah Batik Gedog
Salah satu jenis batik yang ada di
negeri tercinta Indonesia ini adalah “Batik Gedog” yang berasal dari daerah
Tuban Provinsi Jawa Timur. Singkat cerita begini…
BATIK gedog tidak bisa dilepaskan
dari sejarah Tuban. Batik ini kali pertama dibawa langsung Laksamana Cheng Ho
dari China (kini Tiongkok) pada masa pemerintahan Majapahit. Nuansa China
dari batik ini sangat melekat. Itu terlihat dari gambar burung Hong yang
menjadi kekhasan batik tersebut.
Setelah masuk Tuban, batik ini
diadopsi Ki Jontro, pengikut Ronggolawe. Saat Ronggolawe memberontak
Majapahit, dia dan pengikutnya bersembunyi di hutan. Dalam persembunyian
itulah, Jontro yang kemudian namanya dipakai nama alat tenun tradisional
membuat pakaian untuk pasukannya. Semula, pakaian dari kain tenun tersebut
bermotif garis-garis sesuai alur benang. Namun, setelah terpengaruh batik
Lokcan dari Laksamana Cheng Ho, kain tenunnya dibatik seperti batik tersebut.
Nama gedog kemudian diambil dari bunyi proses penenunan yang berbunyi gedog.
Di zaman Sunan Bonang, batik ini
juga dipakai oleh pengikutnya. Kini, sebagian batik peninggalan pengikut
Sunan Bonang itu disimpan di museum Kambang Putih.
Saat ini perkembangan batik gedog
cukup pesat. Tak hanya Tuban, namun batik model ini juga diminati masyarakat
luar Tuban. Dengan harga terjangkau, mereka bisa dengan mudah mendapatkan
batik yang diproduksi di wiyalah Kecamatan Kerek ini.
Karena peminat cukup tinggi,
akhirnya masyarakat Bumi Ronggolawe pun mencoba menjual batik gedog ini di
kompleks makam Sunan Bonang untuk dijajakan pada para peziarah makam salah
satu wali songo ini. Lisa, 33, salah satu penjual batik gedog di kompleks
makam Sunan Bonang mengaku, setiap hari dirinya berhasil menjual sekitar 100
potong batik gedog. ”Bahkan, kalau Minggu, bisa sampai 200 potong lebih,”
kata perempuan asli Tuban ini.
|
|
Batik gedog Tuban kaya motif, warna
dan fungsi. Satu ibu rumah tangga di Tuban memiliki lima lembar kain batik
untuk berbagai keperluan berbeda. Di Tuban, terdapat 100 ragam motif batik,
40 diantaranya sudah dipatenkan pemerintah daerah setempat sebagai upaya
pelestarian budaya. Yang juga khas dari batik Tuban adalah konsistensi
perajin untuk melestarikan batik tulis. Mudah saja membedakan batik Tuban,
karena batik yang diaplikasikan pada kain tenun hingga katun, kebanyakan
adalah batik tulis. Hanya beberapa perajin saja yang masih mengaplikasikan
batik cap di Tuban.
|
|
Masyarakat Tuban, Jawa Timur,
mengenal batik dengan sebutan batik gedog. Gedog berasal dari bunyi dog-dog
yang berasal dari alat menenun batik. Perajin batik di Tuban, secara turun
temurun membatik pada kain tenun. Proses pembuatan batik gedog Tuban butuh waktu
sekitar tiga bulan. Pasalnya, perajin harus melewati proses panjang memintal
benang, menenun, membatik dan pewarnaan dengan bahan alami. Kekhasan batik
tulis tenun Tuban inilah yang dipertahankan perajin dan kolektor selendang
lokcan, Uswatun Hasanah. Uswatun fokus menggeluti dunia membatik dan membuka
kursus membatik sejak 1993. Di bawah bendera Batik Tulis Tenun Gedog Sekar
Ayu, ibu satu anak ini membina 200 perajin di desa Kedungrejo, kecamatan
Kerek, kabupaten Tuban, Jawa Timur.
|
|
“Ada 200 perajin di desa Kedungrejo
dan sekitarnya. Hanya ada 20 perajin yang bekerja di rumah, selebihnya ibu
perajin bekerja di rumah masing-masing. Anak-anak perempuan kelas dua SD juga
dilatih membatik dan mereka sudah bisa mendapatkan penghasilan dari membatik.
Mereka bisa bersekolah dengan uang sendiri. Meski membatik, anak-anak harus
tetap pulang saat waktunya belajar atau mengaji,” jelas Uswatun kepada Kompas
Female usai bincang-bincang pada acara Pameran Kain Tradisional Indonesia di
Museum Tekstil, Jakarta, beberapa waktu lalu. Di tangan para perempuan
perajin batik, tua dan muda, inilah batik Tuban kembali punya nama. Dulunya
hanya ada tiga desa yang menghasilkan batik khas Tuban. Namun kini, terdapat
20 desa perajin batik di kabupaten Tuban. Dalam satu minggu, perajin binaan
Uswatun bisa menghasilkan 300 lembar kain batik. Hasilnya di pasarkan
kebanyakan ke Bali.
|
|
Ragam motif dan fungsi
Batik tulis tenun Tuban terbagi dua
model, kain berukuran dua meter (tapih) dan selendang. Soal fungsi, kain
batik Tuban biasanya digunakan sebagai hantaran pernikahan dari pihak
laki-laki kepada mempelai perempuan. Bagi masyarakat yang berada, calon pengantin
laki-laki biasanya membawa 100 lembar kain batik Tuban. “Paling sedikit pihak
laki-laki membawa lima lembar kain batik sebagai hantaran pernikahan,” lanjut
Uswatun. Sementara selendang, biasanya digunakan kaum ibu untuk menggendong
bakul saat ke pasar atau ke sawah. Namun ada juga selendang yang khusus
digunakan untuk menghadiri acara resmi. Karena batik Tuban punya nilai
tinggi, masyarakat Tuban biasanya menyimpan kain batik untuk diwariskan
kepada anak-anaknya.
|
|
Mengenai motif, Uswatun menjelaskan,
batik Tuban dikenal dengan motif panjiserong, panjiori atau panjikrendil.
Motif inilah yang dulunya dimiliki oleh kalangan priyayi. Namun kini, batik
Tuban bisa dinikmati dan dikoleksi berbagai kalangan dan lapisan masyarakat,
tanpa mengenal status sosial. Ragam motif kain batik Tuban bisa dimiliki
siapa saja yang mampu. Pasalnya, kain batik tulis tenun Tuban memiliki harga
mulai Rp 800.000. Meski begitu, berbagai motif batik Tuban juga bisa
dinikmati masyarakat dengan harga lebih murah. Perbedaannya di bahan dasar
kainnya. Motif panji-panjian ini juga bisa diaplikasikan pada bahan katun
atau blacu. Alhasil, harganya pun menjadi lebih terjangkau, mulai Rp 40.000.
Selain motif panji, kain batik (tapih) dalam bentuk sarung maupun kain
panjang di Tuban juga memiliki motif religi seperti kijing miring dan
ilir-ilir.
|
|
Selendang batik Tuban juga sama
uniknya. Di Tuban dikenal selendang selimun, lokcan dan kembang waluh.
Selendang selimun dipercaya memiliki keampuhan menyembuhkan demam. Masyarakat
biasanya menggunakan selendang selimun untuk menyelimuti seseorang yang demam
tinggi, untuk menurunkan panas. Logikanya, kata Uswatun, selendang yang
dibuat dengan proses pemintalan benang, penenunan, hingga pewarnaan, semuanya
menggunakan bahan alami. Bahan dasar pembuatan batik Tuban berasal dari
kayu-kayuan dan tanaman yang ditanam sendiri oleh para perajin.
|
Lain lagi dengan selendang lokcan
yang mendapat pengaruh dari China. Selendang ini digunakan masyarakat setempat
untuk menyelimuti seseorang yang disengat kalajengking. Lain lagi dengan
selendang waluh, biasanya masyarakat setempat menggunakan selendang ini untuk
upacara ritual membuang sial.Kain dan selendang batik tulis tenun Tuban
biasanya berwarna kecoklatan. Warna gelap menjadi ciri khas batik gedog dari
Tuban. Meski begitu, Anda juga bisa menemui batik Tuban berwarna cerah. Namun
biasanya, batik warna cerah menggunakan bahan lain di luar kain tenun.Di luar
berbagai tradisi budaya setempat dalam memandang fungsi selendang batik ini,
sejatinya batik Tuban punya kharisma dan keindahan yang khas dan unik. Selembar
kain batik tenun tulis Tuban mewakili kreativitas perajin yang tak pernah mati,
selain juga kegiatan membatik yang mengandalkan bahan dasar dari alam.